Jumat, 13 Agustus 2010

Abraham Lincoln dan Doanya


Abraham Lincoln merasakan suatu kebutuhan yang sangat besar akan hikmat pada saat terjadi perang saudara di Amerika.

Seorang kawan pribadinya menulis, "Saya tinggal di Gedung Putih selama tiga minggu sebagai tamu presiden. Pada suatu malam, tepat sebelum perang Bull Run saya sedang beristirahat dan tidak dapat tidur. Dari ranjang Lincoln, saya mendengar suaranya yang bernada rendah. Lalu, saya mengamati melalui pintu yang sedikit terbuka, dan saya melihat suatu pemandangan yang tidak dapat saya lupakan. Kepala negara yang bertubuh tinggi itu sedang berlutu di depan sebuah Alkitab yang terbuka. Ia tidak tahu bahwa saya dapat mendengar permohonannya yang mendalam ketika ia berdoa, "Oh, Engkau Allah yang Agung yang mendengar doa Salomo ketika pada malam hari ia berdoa dan memohon hikmat, dengarkanlah saya. Saya tidak dapat memimpin bangsa ini. Saya tidak mampu mengatasi persoalan-persoalan yang terjadi dalam negara ini tanpa pertolonganMu. Ya, Tuhan, dengarkanlah saya dan selamatkanlah bangsa ini"."

Jawaban yang diterimanya adalah sejarah masa kini, dan perserikatan telah terbentuk.

Dalam masa yang sukar, dan hidup penuh dengan pergumulan, banyak orang yang datang meminta pertolongan untuk memecahkan permasalahannya, dan kita sebagai orang Kristen perlu memiliki hikmat surgawi.

Hikmat itu lebih daripada pengetahuan, yang merupakan kumpulan fakta. Hikmat itu lebih daripada kecerdasan manusia. Hikmat adalah pengertian sedalam-dalamnya terhadap inti persoalan, dan mengenalnya sebagaimana adanya. Di dalamnya termasuk pengetahuan akan Allah dan segala seluk beluk tentang hati manusia.

Hikmat adalah jauh lebih luas daripada pengetahuan. Hikmat merupakan penerapan yang benar dari pengetahuan dalam persoalan-persoalan moral dan rohani; dalam mengahadapi keadaan yang membingungkan, dan dalam kerumitan hubungan manusia.

"Hikmat, sembilan per sepuluhnya adalah sikap bijaksana pada waktunya," kata Theodore Roosevelt.

Kebanyakan kita "sering kali bijaksana setelah peristiwanya terjadi"

Tidak ada komentar: