Jumat, 13 Agustus 2010

Quo Vadis Domine


Kaisar Nero - Penguasa yang gila hormat - dikultuskan seperti dewa. Masa pemerintahannya yang represif meninggalkan luka kekejaman. Kaisar Romawi waktu itu menggemari musik, puisi, juga senang melihat cucuran darah, dan mendengar jerit kesakitan.

Tetapi orang Kristen dengan tegas menolak penindasan, apalagi pengkultusan individu. Sikap tegas orang-orang Kristen itu mengobarkan kebencian Nero.

Suatu hari, untuk membangkitkan gairah musiknya, sambil menyanyikan lagu tentang Perang di Thebe, Nero menyuruh tentaranya untuk membakar kota Roma.

Dan, dari atas bukit di pinggiran kota Roma, ia menyaksikan pembakaran itu sembari bermain musik. Sontak bangkitlah kemarahan rakyat. Gelombang massa yang penuh amarah menuntut adanya penyidikan serius dan hukuman berat bagi pelaku pembakaran itu.

"Orang Kristenlah yang membakar kota," tuding Nero. Kontan saja rakyat melakukan pengejaran besar-besaran. Orang Kristen lalu ditangkap, disiksa, diadu dengan gladiator, atau menjadi mangsa singa, bahkan ada yang dibakar hidup-hidup.

Tidak pelak, ribuan orang Kristen menjadi martir. Sebagian lagi murtad, sedangkan yang lain lari ke luar kota.

Demikian juga Rasul Petrus. Namun, dalam pelariannya, waktu melewati Jalan Apia, saat fajar merekah, Petrus melihat sebuah cahaya kecil mendekatinya. Cahaya kecil itu makin lama makin besar, lalu berubah menjadi sosok tubuh yang sangat dikenal dan dikasihinya. Yesus menatapnya, lalu bertanya, "Quo vadis domine?" Petrus pun terdiam. Terhenyak. Ia balik bertanya, "Quo vadis domine?"

"Ke Roma, kota yang mengalami penganiayaan!" jawab Yesus.

Petrus tertegun. Segera ia pun kembali ke Roma. Di sana ia ditangkap. Dan, mati sahid.

(karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan - Filipi 1:21)

Tidak ada komentar: