
Merayakan Natal kelihatannya gampang, tetapi sebetulnya susah. Susah dalam arti berbahaya dan beresiko, ibarat berjalan di tepi sawah pada waktu malam tanpa bantuan cahaya. Kalau kurang hati-hati bisa terperosok.
Yang paling mencolok adalah bahwa kita mudah terperosok ke dalam komersialisasi Natal. Tanpa kita sadari Natal telah kita jadikan sumber rupa-rupa bisnis dan rezeki. Natal seolah-olah sudah tidak terpisahkan dari pohon terang, keranjang Natal, kartu Natal, kue Natal, tour Natal dan sejumlah komoditas atau barang dagangan lain. Kalau Yesus datang ke perayaan Natal zaman sekarang, mungkin dengan terheran-heran Ia berpikir, "Apa hubungannya barang-barang ini dengan kelahiran-Ku?"
Kita juga jatuh dalam kesibukan Natal. Beberapa minggu sebelumnya kita sudah kena demam Natal, di rumah, di gereja, di sekolah atau di tempat kerja. Belanja ini itu. Menyiapkan rupa-rupa hal. Menghadiri pertemuan sana sini. Apalagi pada hari pelaksanaannya. Kita bernyanyi, "Malam Kudus, sunyi senyap..." Namun hati kita tidak sunyi senyap. Hati kita hiruk pikuk dan ingar bingar.
Kita juga terperosok dalam keramaian bersuasana gemerlapan dan kemewahan. Apakah yang dibisikkan oleh hati nurani kalau kita duduk di tengah segala kemewahan, padahal yang sedang kita rayakan adalah kelahiran seorang bayi dalam sebuah keluarga yang sangat sederhana dan miskin?
Atau kita bisa terperosok dalam emosi merohanikan Natal dengan berkata bahwa kita perlu "membuka hati menjadi palungan" supaya "Yesus lahir di hati kita". Kata-kata itu terdengar bagus, tetapi apakah maknanya? Sebaliknya, berteriak seperti seorang demonstran yang mendesak "agar Natal ditindak-lanjuti keadilan" adalah hanya slogan dan retorika.
Kita juga bisa jatuh dalam kemunafikan Natal. Pada hari-hari Natal tiba-tiba kita berubah menjadi baik hati, damai dan pemurah. Tetapi begitu Natal usai, kita kembali ke pola hidup yang egois, beringas dan mata duitan. Kalau begitu kita menjadi ibarat lampu dan hiasan Natal yang hanya menyala selama beberapa hari saja pada bulan Desember.
Bahaya lain adalah bahwa Natal dipersempit menjadi kejadian eksklusif "dari kita ke kita" untuk mencari kepuasan rohani kita sendiri. Padahal justru pada peristiwa Natal Allah menunjukkan solidaritas kepada manusia.
Natal banyak bahayanya. Itu sebabnya tadi dikatakan bahwa merayakan Natal bukan perkara gampang. Kita mudah terperosok ke dalam hal-hal yang mengaburkan makna Natal yang sesungguhnya.
Tetapi apakah makna Natal yang sesungguhnya? Itulah yang kita cari bersama.
Merayakan Natal banyak bahaya dan resikonya. Tetapi itu bukan berarti kita harus membuang perayaan Natal. Adanya bahaya dan risiko menjadikan kita berhati-hati. Itulah yang mau kita pelajari setiap tahunnya.
Ibarat berjalan di tepi sawah pada malam hari, kita berjalan hati-hati supaya jangan terperosok. Tadi dikatakan bahwa kita berjalan tanpa bantuan cahaya. Sebenarnya cahaya itu ada. Bukankah ada sebuah bintang terang yang menerangi kita? Langit yang luas membuka segala kemungkinan. Allah bisa menempatkan bagi kita semua sebuah bintang besar yang terang yang "mendahului.... hingga tiba dan berhenti di atas tempat di mana Anak itu berada"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar