Selasa, 10 Agustus 2010

Mengapa Percaya Pada Ramalan?


Raja Henry IV dari Inggris pernah diramal bahwa ia akan menemui ajalnya di sebuah tempat bernama Yerusalem. Mula-mula ia merasa aman karena Yerusalem sangat jauh dari Inggris. Namun pada tahun 1413, sewaktu menghadiri sebuah upacara gereja, raja tiba-tiba jatuh sakit dan harus dirawat di sebuah ruangan di gereja tersebut. Tak disangka ruangan itu bernama "Yerusalem". Dan karena begitu percaya ramalan, raja sangat takut dan meninggal!

Apakah ramalan terhadap Raja Henry memang tepat? Sepintas, ya.

Namun, sebenarnya ramalan itu takkan berpengaruh andai Raja Henry tidak mempercayainya dan menjadi sangat ketakutan. Jadi, sang raja meninggal bukan karena manjurnya ramalan, tetapi karena ketakutannya sendiri.

Ramalan yang sudah ada sejak zaman dulu, kembali populer di masa kini. Ada program komputer yang bisa meramal hidup seseorang, ada program di televisi yang juga melakukan hal serupa. Ada layanan SMS yang bisa dikirim untuk mendapat nasihat ramalan. Dan, setiap majalah atau tabloid masih terus memuat rubrik ramalan bintang!

Allah menentang semua hal yang berbau okultisme, termasuk ramalan berbau klenik dan magis. Ramalan membuat kita tak lagi berharap dan percaya kepada Tuhan, sebaliknya memercayai perkataan manusia.

Jangan terlibat hal-hal seperti ini. Ramalan-ramalan demikian tidak akan
mendatangkan damai sejahtera, tetapi mendatangkan ketakutan, kekhawatiran, serta efek-efek negatif lain. Lebih jauh, memercayai ramalan merupakan kekejian di mata Tuhan. Kita kerap berdalih bahwa itu hanya "iseng". Namun jika terus dilakukan, lama-lama kita percaya juga.

Akhirnya, hidup kita bukan lagi diatur Tuhan, tetapi ada di tangan para peramal. Kalau sudah begitu, siapa yang rugi? -PK

DI MANAKAH KITA MENARUH HIDUP;
DI TANGAN TUHAN ATAU DI TANGAN MANUSIA?

Ulangan 18:9-14

9. "Apabila engkau sudah masuk ke negeri yang diberikan
kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, maka janganlah engkau belajar
berlaku sesuai dengan kekejian yang dilakukan bangsa-bangsa itu.
10 Di antaramu janganlah didapati seorangpun yang
mempersembahkan anaknya laki-laki atau anaknya perempuan sebagai
korban dalam api, ataupun seorang yang menjadi petenung, seorang
peramal, seorang penelaah, seorang penyihir,
11 seorang pemantera, ataupun seorang yang bertanya kepada
arwah atau kepada roh peramal atau yang meminta petunjuk kepada
orang-orang mati.
12 Sebab setiap orang yang melakukan hal-hal ini adalah
kekejian bagi TUHAN, dan oleh karena kekejian-kekejian inilah
TUHAN, Allahmu, menghalau mereka dari hadapanmu.
13 Haruslah engkau hidup dengan tidak bercela di hadapan TUHAN,
Allahmu.
14 Sebab bangsa-bangsa yang daerahnya akan kaududuki ini
mendengarkan kepada peramal atau petenung, tetapi engkau ini
tidak diizinkan TUHAN, Allahmu, melakukan yang demikian.

Tidak ada komentar: